Bagaimana Bila Bayi dan Balita Terlalu Banyak Konsumsi Gula Tambahan?

Hidup Sehat – Melalui data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS), menyatakan 90 persen balita dan 60 persen bayi mengonsumsi gula tambahan berlebihan. Gula tambahan biasanya ditemukan dalam minuman manis, makanan yang dipanggang hingga sejumlah jenis makanan ringan.

Hampir semua balita di Amerika Serikat tercatat sekitar dua per tiga bayi di Negara tersebut mengonsumsi gula tambahan. Sedangkan menurut rekomendasi dari ahli gizi menyatakan anak-anak harus menghindari zat pemanis buatan tersebut.

Melalui data dari CDC, di tahun 2011 hingga 2016 ditemukan sebanyak 98 persen balita usia 12 hingga 23 bulan mengonsumsi gula tambahan melalui minuman buah, sereal siap jadi, makanan yang dipanggang, dan permen. Diketahui juga, balita kulit hitam mengonsumsi gula tambahan sekitar delapan sendok teh dalam sehari, sedangkan balita kulit putih keturunan Asia mengonsumsi gula tambahan dengan jumlah paling sedikit, yakni sekitar 3,7 sendok teh dalam sehari.

Kepala tim peneliti Kristen Herrick mengungkapkan “ Satu hal terpenting yang perlu diketahuo adallah gula tambahan dapat ditemukan dimana saja. Bahkan yang paling mengejutkan adalah bagaimana gula yang ditambahkan dengan cepat hingga melebihi jumlah gula tambahan harian yang disarankan.”

Melalui hasil riset ditemukan bahwa sekitar 60 persen bayi di usia hingga 11 bulan mengonsumsi tambahan gula yang terdapat dalam susu, yogurt, makanan ringan sekitar satu sendok teh per harinya. Namun, hasil riset secara keseluruhan terlalu kecil dalam menciptakan kesimpulan ilmiah tentang ras.

Dalam hal ini, gula tambahan yang dimaksudkan termasuk pemanis, gula tebu, dan sirup jagung fruktosa tinggi, yang bukan terjadi secara alami dalam makanan tersebut. Berdasarkan American Heart Association disarankan agar balita dan bayi sepenuhnya menghindari minuman manis yang disebabkan gula.

Melalui riset lainnya, anak yang memiliki usia lebih tua hanya dibatasi konsumsi gula hingga enam sendok teh per hari. American Cancer Society pada tahun 2016 melansirkan pedoman diet yang menyatakan bahwa orang dewasa harus membatasi konsumsi tambahan gula hingga 10 persen dari kalori harian yang sudah dianjurkan.

Namun di samping itu juga dianjurkan agar mengurangi jumlah minuman yang mengandung manis dari gula, seperti minuman buah dan minuman energi yang biasa dikonsumsi. Selain dapat menambah berat badan, gula juga dapat menyebabkan banyak jenis kanker.

Kepala tim peneliti Kristen Herrick mengatakan konsumsi gula pada anak-anak hingga remaja lebih besar terhadap dampak gigi berlubang, obesitas, asma, dan tekanan darah tinggi. Meskipun riset menunjukkan bahwa jumlah konsumsi gula yang cukup mengkhawatirkan, namun hasil riset juga mengamati bahwa konsumsi gula menurun secara keseluruhan terjadi pada bayi.

Selain itu menurut Herrick, anak – anak yang diberikan makanan dengan gula tambahan yang melebihi jumlah rekomendasi para ahli bisa mempengaruhi selera akan rasa mereka setelah dewasa. Jadi, tidak adanya alasan pemberian minuman yang mengandung gula tambahan maupun jenis makanan lain pada bayi dan balita. “ Mereka membutuhkan makanan dengan padat nutrisi,” ungkap Herrick.