Perempuan Perlu Duduk Dengan Posisi Kaki Sedikit Mengangkang Demi Kesehatan

Hidup Sehat – Tentunya sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan aturan yang tidak tertulis, perempuan harus duduk dengan posisi kaki dirapatkan, berbeda dengan laki-laki yang duduk dengan posisi kaki sedikit terbuka. Aturan duduk dengan posisi kaki dirapatkan tersebut sudah menjadi etika bagi wanita terhormat bahkan sejak tahun 1300-an.

Secara medis, memiliki pandangan yang bertolak belakang tentang etika duduk tersebut. Barbara Bergin, dokter ahli bedah ortopedi bahkan mendorong sebuah gerakan agar perempuan duduk seperti laki-laki ( sit like a man, SLAM).

Melalui pengalaman pribadinya, Barbara Bergin pada tahun 2010 maka terinspirasi akan gerakan SLAM tersebut. Saat itu, Barbara Bergin menderita bursitis yang merupakan peradangan pada kantung berisi cairan pelumas di sendi yang bernama bursae.

Awalnya, Barbara Bergin mengira sakit yang di deritanya disebabkan oleh usia yang tidak lagi muda. Namun, setelah disadari setiap akhir pekan Barbara Bergin tidak merasakan gejala-gejala nyeri dari bursitis. Dimana kala tersebut, ia tidak harus bekerja dan mengendarai mobil kecil yang mengharusnya duduk dengan posisi kaki yang rapat.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, Barbara Bergin menarik kesimpulan bahwa duduk dengan posisi kaki rapat atau lady-like dapat memperburuk kondisi yang dialaminya. Keadaan seperti ini juga cukup masuk akal karena pada umumnya perempuan memiliki panggul yang lebih besar daripada laki-laki.

Dengan posisi duduk dengan kaki yang rapat dapat menyebabkan misalignment atau ketidakselarasan posisi yang dapat memicu terjadinya nyeri lutut atau pinggul. Menurut yang disampaikan Berlin seperti yang dilansir Daily Mail, perempuan tidak harus duduk dengan posisi kaki yang terlalu lebar agar mencegaj nyeri lutut dan pinggl, namun cukup duduk dengan membuka sedikit saja posis kaki.

Barbara Bergin menuturkan “ Kami ingin (posisi kaki Anda seperti) jarum jam 11 dam jam 1.”

Di samping faktor posisi duduk, Barbara Bergin juga mengungkapkan masalah nyeri musculoskeletal yang dialami wanita juga berkaitan dengan penggunaan sepatu hak tinggi. Melalui riset dari 100 orang yang mengalami nyeri akibat bursitis, terdiri dari 95 orang merupakan perempuan dengan kebiasaan menggunakan sepatu hak tinggi dengan ujung tumitnya yang runcing.

Barbara Bergin mengungkapkan “Kita jauh lebih baik bila tidak menggunakan hak tinggi atau sejarang mungkin untuk menggunakannya.”