Sakit kepala Menyerang Setelah Mengonsumsi Gula?

Hidup Sehat – Akibat mengonsumsi gula dapat menyebabkan beberapa kondisi medis yang dapat membuat seseorang lebih rentan terkena sakit kepala. Kondisi medis tersebut meliputi diabetes dan orang yang sudah memiliki riwayat penyakit migrain.

Melalui Medical News Today dilansirkan diabetes tidak dapat mengelola kadar gula darahnya secara alami. Apabila gula darah menjadi terlalu tinggi maupun terlalu rendah, maka bisa terserang sakit kepala.

Kemungkinan untuk mengalami sakit kepala pun dapat bertambah besar saat gula darah berfluktuasi. Apabila tidak dikontrol kondisinya atau tidak minum obat sesuai resep yang diberikan,maka diabetes akan lebih rentan terserang sakit kepala.

Jika diabetes tidak dikontrol dapat mengakibatkan merusak pembuluh darah. Rusaknya pembuluh darah tersebut dapat mengubah sirkulasi darah ke otak, sehingga dapat meningkatkan resiko terhadapkesehatan jantung dan otak. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan timbulnya sakit kepala.

Faktor lain dari sakit kepala yang tiba-tibadan intens dapat disebabkan oleh stroke, gumpalan darah, ataupun aneurisma. Beberapa orang dengan diabetes mengembangkan kondisi yang disebut ketoasidosis diabetik, yakni ketika tubuh menggunakan lemak sebagai pengganti gula sebagai energi.

Para penderita ketoasidosis diabetik kadang-kadang mengalami sakit kepala hebat, pembengkakkan, kebingungan, bahkan kehilangan kesadaran. Selain itu, orang yang sudah memiliki penyakit migraine juga lebih mudah untuk sakit kepala jika mengonsumsi gula.

Setiap orang memiliki pemicu migrain yang berbeda-beda, baik perubahan dalam diet dan fluktuasi gula darah berpotensi memicu migraine pada beberapa orang yang memang sudah biasa mengalaminya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencatat kapan migrain terjadi guna menentukan apakah pemicunya adalah gula.

Sebuah riset di tahun 2006 menyebutkan pemanis jenis sucralose berkaitan dengan migrain. Kesimpulannya berarti pengganti gula juga berpotensi dalam timbulnya sakit kepala yang disebabkan oleh gula.

Langkah antisipasi yang kerap memutuskan untuk diet gula. Akan tetapi dengan menghindari gula sama sekali bukanlah cara yang tepat.

Faktanya, gula dapat menyebabkan perubahan otak yang mirip dengan obat adiktif karena gula dapat membuat ketagihan.

Sebuah riset di tahun 2016 menyatakan otak memproduksi dopamin lebih sedikit saat terkena kadar gula yang tinggi secara kronis. Dopamin mampu memainkan peranan penting dalam suasana hati baik itu kesenangan maupun motivasi. Selain itu, dopamine juga dapat dikaitkan dengan kecanduan.

Apabila seseorang tiba-tiba menghentikan konsumsi gula, maka otak mereka akan mengalami penarikan. Sehingga mengurangi mengonsumsi gula secara bertahap adalah cara yang tepat untuk mengurangi gejala-gejala tersebut.