Ketahui Kebiasaan Sehat yang Dapat Mengganggu Kesehatan Usus

Hidup Sehat – Salah satu cara agar manusia dapat menjalani keseharian dengan baik adalah dengan mengutamakan menjaga kesehatan usus. Baik itu gejala mual maupun diare jangan dipandang sebelah mata karena dapat berpotensi mengganggu aktivitas Anda. Melalui Bustle dijelaskan bahwa ada beberapa kebiasaan yang dapat memicu gangguan pada usus.

Ara Katz, selaku co-founder Seed yang merupakan perusahaan yang fokus pada riset terkait pada kesehatan usus mengatakan “BAB Anda (baik ukuran, bentuk, warna, tekstur, maupun frekuensi) yang menjadi salah satu dari indicator kesehatan pencernaan.”

Menurut versi Seed, berikut kebiasaan sehat yang dapat mengganggu kesehatan usus.

Makan banyak protein

Konsumsi protein yang sesuai porsi sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan otot. Protein juga berfunsi untuk membantu menguatkan kesehatan tulang. Akan tetapi seorang ahli kesehatan pencernaan dari klinik Cleveland yang bernama Christine Lee membantah hal tersebut. Christine menekankan bahwa konsumsi protein tinggi justru akan dapat mengarahkan pada penyakit usus. Dikarenakan tubuh tidak mendapatkan konsumsi yang seimbang baik dari karbohidrat maupun serat.

Bangun lebih pagi untuk berolahraga

Menjadwalkan diri untuk memulai kebiasaan untuk bangun lebih awal untuk berolahraga mungkin dianggap baik bagi kesehatan. Namun ternyata hal tersebut dapat mempengaruhi pada BAB. Hal tersebut disebabkan dari gangguan yang terjadi pada pola tidur yang sudah terbentuk berpotensi mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pada dasarnya olahraga tetap bermanfaat bagi kesehatan sehingga menghindari olahraga di pagi hari bukanlah solusinya. Namun disarankan agar menetapkan suatu jadwal olahraga sehingga tidak mengganggu pada pola tidur.

Konsumsi probiotik

Kini banyak dijumpai produk probiotik yang ada di pasaran. Namun faktanya produk probiotik tidak selalu bermanfaat positif bagi tubuh. Tidak semua manfaat yang dijanjikan pada produk probiotik yang dijual selalu terpenuhi sesuai dengan yang diiklankan. Justru kenyataan ada probiotik yang berpotensi menyulitkan BAB.

Ahli kesehatan, Reid mengatakan “ Nampaknya banyak sekali iklan yang mengkampanyekan budaya konsumsi probiotik.” Meskipun mengingat bahwa kehadiran bakteri pada probiotik tidak selalu dibutuhkan dalam tubuh. Menurut penelitian pada 2015, menunjukkan adanya probiotik yang berpotensi memicu diare.

Konsumsi Vitamin

James Wantuck, seorang ahli kesehatan mengatakan “ Sejumlah vitamin dan suplemen seperti zat besi dan magnesium justru mengarah pada masalah BAB.”

Melalui penelitian pada 2015 menyebutkan ditemukannya suplemen zat besi yang malah menjadi penyebab sakit perut. Menurut Office of Dietary Supplements (ODS) melaporkan kelebihan magnesium yang terkandung dalam suplemen dapat menyebabkan diare.

Lari jarak jauh

Olahraga Lari tentunya memberikan manfaat yang positf terhadap kesehatan tubuh. Bahkan bagi perempuan hanya dengan lari satu menit saja setiap harinya dapat meningkatkan kesehatan tulangmya. Akan tetapi apabila anda mengalami keinginan untuk BAB pada saat melakukan olahraga lari maka Anda bukanlah satu-satunya yang mengalami hal tersebut.

Edward laskowski, ahli kesehatan olahraga mengatakan bahwa “ Diare bagi pelari ialah karakteristik yang dicermati dari frekuensinya selama atau sesudah lari. Penyakit ini sangat umum dialami bagi pelari jarak jauh.”

Untuk menghindari, solusinya bagi pelari adalah menjaga asupan cairan ke dalam tubuh, mencegah kafein dan menghindari makan yang berserat sebelum olahraga lari agar dapat mencegah penyakit diare itu terjadi.

Konsumsi serat berlebihan

Mengonsumsi makanan berserat tentunya baik bagi tubuh. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah jumlah konsumsinya yang perlu diatur agar tidak berlebihan. Karena mengonsumsi serat yang berlebihan dapat ikut mempengaruhi kesehatan usus. Kondisi ini sangat berlaku bagi pelaku diet dengan mengonsumsi tinggi serat seperti gandum, buahan, sayuran, dan kacangan.

Penelitian pada 2012 menyatakan penyakit sakit perut kronis mampu mengurangi perubahan pada penyakit mereka melalui diet serat. Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun merupakan serat baik, konsumsinya harus tetap dijaga keseimbangannya.