Inilah Manfaat dan Risiko Dari Transplantasi Organ

Hidup Sehat – Transplantasi organ merupakan proses pemindahan organ tubuh yang berasal dari manusia satu ke manusia lainnya melalui suatu operasi. Dimana organ yang didapatkan oleh pendonor di tempatkan pada tubuh penerima.

Transplantasi organ adalah salah satu prosedur medis yang penting untuk dilakukan jika organ tubuh seseorang mengalami cedera atau kerusakan berat, sehingga organ tersebut tidak dapat berfungsi lagi. Ada banyak jenis organ manusia yang dapat didonorkan dengan prosedur transplantasi, seperti ginjal, hati, jantung, paru-paru, kornea, serta pankreas.

Prosedur transplantasi organ ini dapat menyelamatkan nyawa si penerima. Tetapi dari sisi lain, tindakan ini juga memiliki risiko yang tinggi, jika terjadi penolakan dari tubuh penerima. Hal tersebut dikarenakan, organ baru yang di transplantasi tersebut akan dianggap sebagai benda asing yang harus dilawan. Sehingga, tubuh tersebut akan diperlakukan layaknya penyakit dan mengakibatkan organ baru tidak dapat bekerja dengan maksimal.

Mengenal manfaat serta risiko transplantasi organ

Prosedur dalam transplantasi organ umumnya dilakukan jika pada organ tubuh mengalami kerusakan yang parah, yang mengakibatkan organ tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya dengan normal, bahkan hampir berhenti sama sekali. Sehingga dengan mengganti organ tubuh yang rusak tersebut dengan organ yang masih sehat, pasien penerima donor akan mendapatkan beberapa manfaatnya, yaitu:

  • Menghindari prosedur tertentu yang dapat memakan waktu yang lebih lama, seperti dialisi atau cuci darah.
  • Meningkatkan angka harapan hidup.
  • Menjalani hidup dengan lebih sehat serta rasa sakit yang sebelumnya dirasakan hilang.
  • Meningkatkan kualitas hidup.
  • Menurunkan risiko terjadinya kecacatan.
  • Mengurangi jenis operasi yang harus dilakukan.
  • Mengurangi berbagai jenis obat yang dikonsumsi.
  • Mengurangi waktu keberadaan di rumah sakit.

Walaupun demikian, operasi transplantasi organ juga mempunyai beberapa risiko yang dapat terjadi, yaitu:

  • Komplikasi yang terjadi dari obat bius yang diberikan.
  • Pendarahan pada saat operasi yang berjalan.
  • Terjadi komplikasi setelah operasi, seperti infeksi.
  • Meningkatnya risiko infeksi yang diakibatkan oleh konsumsi obat setelah transplantasi.
  • Penolakan organ yang di terima.
  • Gagal organ.

Proses transplantasi organ dapat dikatakan rumit, karena ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum seseorang dapat menerima organ yang cocok. Pada umumnya, ada tiga hal yang akan dilalui oleh seorang pasien yang akan menerima prosedur transplantasi organ ini, yaitu:

1. Menunggu organ yang cocok

Untuk dapat menjalani prosedur ini, seorang pasien harus mendapatkan donor organ yang cocok. Organ tubuh tersebut bisa dari orang yang baru saja meninggal dunia, atau organ tubuh orang yang masih hidup yang bersedia menyumbangkan organnya.

Biasanya, seseorang yang membutuhkan donor organ harus menunggu antrean, hal tersebut dikarenakan ketersediaan organ yang ada. Lama atau tidaknya seseorang bisa mendapatkan organ tubuh yang cocok dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

  • Golongan darah. Bagi penerima organ yang memiliki golongan darah yang langka, biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan organ tubuh yang cocok.
  • Jenis jaringan.
  • Tinggi serta berat badan penerima.
  • Ukuran organ yang akan didonorkan.
  • Kegawatdaruratan medis. Pasien yang memiliki kondisi yang lebih parah, bisa didahulukan.
  • Jumlah pasien yang mengantre untuk mendapatkan organ donor.
  • Jumlah orang yang mau menjadi pendonor organ.

2. Panduan sebelum dan saat operasi

Operasi transplantasi organ biasanya mendapatkan jadwal dari jauh-jauh hari. Dalam jangka waktu yang telah ditetapkan penerima donor, pendonor, ataupun tim medis dapat melakukan beberapa persiapan, yaitu:

  • Menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap sebelum operasi dilakukan.
  • Pendonor dan penerima donor tiba di rumah dalam waktu yang kurang lebih sama untuk memulai persiapan operasi.
  • Setelah masuk rumah sakit, petugas operasi akan melakukan berbagai protokol yang harus dilakukan sebelum memulai operasi.
  • Pendonor dan penerima donor mungkin akan melakukan tes ulang untuk memasitkan benar-benar kecocokan organ yang akan di transplantasi.
  • Petugas operasi akan menjelaskan secara rinci pada pasien mengenai tahapan operasi yang akan dilalui.

Operasi transplantasi organ akan dilakukan dibawa pengaruh bius total maupun lokal, sehingga penerima ataupun pendonor tidak akan merasakan sakit sama sekali saat operasi berjalan. Operasi yang dilakukan akan menggunakan teknik yang berbeda-beda, sesuai dengan organ tubuh yang di transplantasikan.

3. Tatalaksana setelah operasi

Setelah melakukan operasi, tim dokter serta perawat akan menempatkan penerima donor di ruang ICU untuk mendapatkan pengawasan intensif. Bahkan, pasien juga akan diberikan berbagai jenis obat-obatan yang akan mendukung pemulihatnnya.

Biasanya, pasien yang selesai melakukan operasi akan mengalami kesulitan untuk makan dalam waktu beberapa hari. Pasien juga akan dirawat sampai kondisi kesehatannya dinilai sudah cukup baik, dan biasanya perawatan yang dilakukan tidak memakan waktu kurang lebih dari satu minggu di rumah sakit.

Setelah pasien diperbolehkan pulang, ada beberapa arahan dokter yang harus dilakukan, yaitu:

  • Membersihkan diri setiap hari serta membersihkan area bekas operasi menggunakan sabun dan air, setelah itu mengeringkannya secara perlahan.
  • Mengonsumsi makanan bergizi serta mengikuti pola makan yang yang sesuai dengan arahan dokter.
  • Perlahan-lahan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.
  • Mulai melakukan olahraga rutin dengan berjalan santai.
  • Tidak mengangkat beban yang berat dari 2 kg selama waktu 6 minggu pertama setelah operasi.